Home Style Widget

Cuap-Cuap, Menggibahi Namamu

https://www.sushovan.de/design/wallpapers/

Buku kecil nan tipis yang kutemukan di sela-sela tumpukan buku yang telah lama tidak kulirik itu langsung kubuka, dibaca halaman perhalaman, meski sedikit dan menggunanakan bahasa melayu, membacanya tetap asyik, kitab kecil itu adalah Adabul insan karya mufti betawi, Habib Utsman bin Yahya.
Intinya, disana diterangkan tentang beberapa adab dari segi individu maupun sosial serta spiritual. Menurut beliau, kelakuan jahat (baca;tidak baik) itu disebabkan, diantaranya karena tidak mendapat ajaran yang baik, atau karena ia banyak bergaul dengan orang-orang jahat, sehingga ia terkontaminsai dengannya.
Terlintas di pikiran ini akan nazom Alala tentang adab penuntut ilmu yang menyebutkan syair:
إذا كنت في قوم فصاحب خيارهم # ولا تصحب الأردى فتردي مع الرادي
Apabila engkau tinggal di suatu kaum maka bersahabatlah dengan orang yang terpilih (orang baik) diantara mereka # dan janganlah bersahabat dengan orang buruk (perangainya) maka kamu akan menjadi buruk pula.
Mengenai bersahabat dengan orang baik, kita pun belum bisa menentukan siapa dari teman kita yang baik dan mana yang buruk, ah sudahlah, kembali kepada diri masing-masing.
Setelah dilacak, syair diatas ternyata tidak hanya terdapat di nazom Alala saja, saya mencarinya di beberapa literatur kitab klasik, walhasil ada banyak. Saya coba ambil satu.
Dalam kitab Al-Jawahir Al-Hassan fii Tafsir Al-quran karya Abu Zaid Abdurrahman bin Muhammad Ats-Tsu’alaby (wafat 875 H), nazom ini disebutkan ketika beliau menafsirkan ayat 67 dari surat Az-Zuhruf yang berbunyi:
الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang bertakwa
Sebagian tafsirnya adalah, “teman-teman akrab yang tidak didasarkan ketaqwaan (maksiat) pada hari kiamat itu saling bermusuhan, masing-masing saling membenci satu sama lainnya, permusuhan timbul diantara mereka, hal tersebut disebabkan karena kerugian yang menimpa masing-masing mereka (hari itu) disebabkan dari temannya sendiri, adapun orang yang yang bertaqwa, mereka sebaliknya, menganggap bahwa kemanfaatan dan kesejahteraan (keselamatan di hari itu) itu datang dari sahabat mereka sendiri.
Dalam suatu hadis disebutkan:
عن ابن عَبَّاس قال: )قيل: يا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ جُلَسَائِنَا خَيْرٌ؟ قَالَ: مَنْ ذَكَّرَكُمْ باللَّهِ رُؤْيَتُهُ، وَزَادَكُمْ في عِلْمِكُمْ مَنْطِقُهُ، وَذَكَّرَكُمْ بِاللَّهِ عَمَلُهُ(
Dari ibnu Abbas berkata, (“Dikatakan: “Wahai Rasulullah, manakah dari teman-teman akrab kami yang baik? Beliau berkata: “Yaitu yang pandangannya mengingatkan kalian pada Allah Swt, perkataannya menambah ilmu kalian, dan amalannya mengingatkan kalian pada Allah Swt). Hadis ini ditakhrij oleh Abu Ya’la dari hadis ibn Abbas, begitu juga Al-Hutsaimi menyebutkan hadis ini dalam kitab Majmu’ Zawaid, beliau berkata: “Hadis ini diriwayatkan oleh Bazaar dari gurunya yang bernama Ali bin Harb, namun aku tidak mengenalnya, sedangkan periwayat lain dalam hadis ini tsiqoh.
Masih dalam tafsir ayat ini, disebutkan dalam hadis:
المَرْءُ على دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
Agama seseorang tergantung pada sahabat karibnya, maka perhatikan dengan siapa kalian bersahabat.
Hadis diatas dikeluarkan oleh imam Tirmizi dalam kitab Az-Zuhd, beliau menilai hadis ini derajatnya hasan shohih.
Lagi-lagi masih dalam tafsir ayat diatas, dalam kitab Sima’ Al-Utbiyyah imam Malik berkata, “Jangan berteman dengan orang yang hanyut dalam kemaksiatan, supaya engkau tidak tahu perbuatan (makisat)nya”, Ibnu Rusyd mengatakan, “Tidak selayaknya bersahabat kecuali dengan orang yang diikuti agama dan kebaikannya (orang baik), karena teman yang buruk itu akan menjadikan temannya buruk juga. Dan Al-hakim berkata:
إذَا كُنْتَ في قَوْمٍ فَصَاحِبْ خِيَارَهُم ... وَلاَ تَصْحبِ الأردى فتردى مَعَ الرَّدِي
Apabila engkau tinggal di suatu kaum maka bersahabatlah dengan orang yang terpilih (orang baik) diantara mereka # dan janganlah bersahabat dengan orang buruk (perangainya) maka kamu akan menjadi buruk pula.
Begitulah sedikit penjelasan dalam kitab tafsir Al-Jawahir Al-Hassan fii Tafsir Al-quran.
Mengingat syair diatas, saya baru-baru ini memiliki kenalan yang namanya mengingatkan saya akan syair diatas, yaitu Arda Tsamrotul Millah. Awalnya saya mengira makna dari namanya adalah “seburuk-buruknya buah agama”, karena jika ditulis ke bahasa arab akan menjadi أردى ثمرة الملّة , arda adalah isim tafdhil dari Rodi’ (binasa/buruk), maka jika dipindah ke isim tafdhil artinya “lebih buruk”. Namun, sepertinya ada yang keliru, iya aku keliru dalam mengira-ngira, tulisan arabnya yang lebih cocok sepertinya adalah أرضى ثمرة الملّة (sebaik-baiknya buah agama). Wallahu a’lam
Tapi hal yang menggelitik, jika menyenandungkan nazom ini, ketika sudah sampai pada baitnya, saya teringat dengannya dan akal pikiran mentabirkan makna sesuai lafaz bait itu, yaitu “Jangan engkau bersahabat dengan si Arda, maka kau akan menjadi blablabla…
Ah sudahlah, lupakan…
Ciputat, 31 Desember 2017

Post a comment

0 Comments